marque

SEMOGA BERMANFAAT. DIHARAPKAN PENGUNJUNG BISA MEMBERIKAN KRITIK DAN SARAN UNTUK PENGEMBANGAN BLOG INI. Silahkan bisa tinggalkan comment atau like. Thanks

Kamis, 28 Juni 2012

Metode pembiasaan anak usia 5-12 tahun menurut Islam


METODE PEMBIASAAN
DALAM PENDIDIKAN AKHLAK ANAK USIA 5-12 TAHUN

A.    Metode Pembiasaan
1.    Pengertian  Metode Pembiasaan
Secara etimologi, pembiasaan asal katanya adalah “biasa”. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, biasa adalah:
* Lazim atau umum;
* Seperti sedia kala;
* Sudah merupakan hal yang tidak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Dengan adanya prefiks “pe” dan sufiks “an” menunjukkan arti proses. Sehingga pembiasaan dapat diartikan dengan proses membuat sesuatu atau seseorang menjadi terbiasa.
Dalam kaitannya dengan metode pengajaran dalam pendidikan islam, dapat dikatakan bahwa pembiasaan adalah sebuah cara yang dilakukan untuk membiasakan anak didik dalam berpikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntunan ajaran agama Islam.[1]
Untuk melaksanakan tugas atau kewajiban secara benar dan rutin terhadap atau peserta didik diperlukan pembiasaan. Misalnya agar anak atau peserta didik dapat melaksanakan shalat secara benar dan rutin maka mereka perlu dibiasakan shalat sejak masih kecil, dari waktu ke waktu. Itulah sebabnya kita perlu mendidik mereka sejak kecil agar mereka terbiasa dan tidak merasa berat untuk melaksanakannya ketika mereka sudah dewasa. Sehubungan dengan itupesan Rasulullah kepada kita agar melatih atau membiasakan Anak untuk melaksanakan shalat ketika mereka berusia tujuh tahun dan memukulnya (tanpa cidera/bekas) ketika mereka berumur sepuluh tahun atau lebih apabila mereka tidak mengerjakannya.[2]
Alqur’an sebagai ajaran sumber ajaran islam, memuat prinsip-prinsip umum pemakaian metode metode pembiasaan dalam proses pendidikan. Dalam merubah sebuah perilaku negatif misalnya, Alqur’an memakai pendekatan pembiasaan yang dilakukan secara berangsur-angsur. Kasus pengharaman khamar, misalnya Alqur’an menggunakan beberapa tahap. Sebagai gambaran umum Allah menurunkan ayat:
`ÏBurÏNºtyJrOÈ@ϨZ9$#É=»uZôãF{$#urtbräÏ­Gs?çm÷ZÏB#\x6y$»%øÍur$·Z|¡ym3¨bÎ)Îûy7Ï9ºsŒZptƒUy5Qöqs)Ïj9tbqè=É)÷ètƒÇÏÐÈ

Artinya:“Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan”. (Q.S. An-Nahl: 67)[3].
Ayat di atas memberikan penjelasan hanya sebatas tentang manfaat yang dapat diperoleh dari buah korma dan anggur agar mereka merasakan demikian besarnya kemahakuasaan Allah.
Ayat ini sama sekali belum menyentuh garis hukum haramnya minuman khamar. Isyarat ayat di atas dinilai sangat halus dan hanyha dapat dirasakan oleh yang bisa merasakan bahwa Allah SWT. Suatu saat pasti akan melarang minuman yang memabukan tersebut.
Untuk tahap awal Allah berfirman:
y7tRqè=t«ó¡oÇÆtã̍ôJyø9$#ÎŽÅ£÷yJø9$#ur(ö@è%!$yJÎgŠÏùÖNøOÎ)׎Î7Ÿ2ßìÏÿ»oYtBurĨ$¨Z=Ï9!$yJßgßJøOÎ)urçŽt9ò2r&`ÏB$yJÎgÏèøÿ¯R3štRqè=t«ó¡our#sŒ$tBtbqà)ÏÿZãƒÈ@è%uqøÿyèø9$#3šÏ9ºxx.ßûÎiüt7リ!$#ãNä3s9ÏM»tƒFy$#öNà6¯=yès9tbr㍩3xÿtFs?ÇËÊÒÈ
Artinya:“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya". dan mereka bertanya kepadamu apa yangmereka nafkahkan. Katakanlah: " yang lebih dari keperluan." Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir”. (Q.S. Al-baqarah: 219).[4]
Ayat ini mengisyaratkan adanya alternatif pilihan yang diberikan oleh Allah; Antara memilih banyak positifnya  dengan lebih banyak negatifnya dari kebiasaan meminum khamar. Demikian tolerannya Alqur’an, sesungguhnya dapat menyentuh  perasaan dan pikiran setiap orang bahwa kebiasaan meminum khamar dan melakukan perjudian adalah kebiasaan yang yang seharusnya di tinggalkan,karena aspek negatifyang akan muncul dari perbuatan tersebut lebih banyak daripada aspek manfaatnya.
Tahap kedua, Allah menurunkan ayat yang berbunyi:
$pkšr'¯»tƒtûïÏ%©!$#(#qãYtB#uäŸw(#qç/tø)s?no4qn=¢Á9$#óOçFRr&ur3t»s3ß4Ó®Lym(#qßJn=÷ès?$tBtbqä9qà)s?
Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu shalat, sedang kamu dalam keadaan mabuk, sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan,” (Q.S. an Nisa’ [4]:43)[5]
Meminum khamar adalah perbuatan dan kebiasaan yang tidak terpuji. Sebagaian di antara kaum muslimin telah menyadari dan membiasakan diri untuk tidak lagi meminum minuman yang memabukan. Namun masih ditemukan juga sebagian yang lain yang sulit merubah kebiasaan tersebut, sampai-sampai ingin melakukan salat pun mereka melakukan kebiasaan tersebut.
Tahap tiga, secara tegas Allah melarang meminum khamar sebagaimana tercermin dalam ayat yang berbunyi:
$pkšr'¯»tƒtûïÏ%©!$#(#þqãYtB#uä$yJ¯RÎ)ãôJsƒø:$#çŽÅ£øŠyJø9$#urÜ>$|ÁRF{$#urãN»s9øF{$#urÓ§ô_Íô`ÏiBÈ@yJtãÇ`»sÜø¤±9$#çnqç7Ï^tGô_$$sùöNä3ª=yès9tbqßsÎ=øÿè?ÇÒÉÈ
Artinya:“Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorb:an untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[434], adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan” (Q.S. Al – Maidah [5]: 90).[6]
Oleh karena itu, pendekatan pembiasaan sesungguhnya sangat efektif dalam menanamkan nilai-nilai positif ke dalam diri anak didik; baik pada aspek kognitif, efektif dan psikomotorik. Selain itu, pendekatan pembiasaan juga dinilai sengat efisien dalam mengubah kebiasaan nigatif menjadi positif.
Namun demikian pendekatan ini akan jauh dari keberhasilan jika tidak diiringi dengan contoh tauladan yang baik dari si pendidik. Oleh karena itu berikut ini akan kita lihat syarat – syarat pemakaian kelebihan adn kekurangan dari pendekatan pembiasaan dalam pencapaian tujuan proses pedidikan.
Menurut Tayar Yusuf dan Syaiful Anwar metode-metode yang dapat dipakai dalam pendidikan dan pengajaran agama Islam, dapat dilihat sebagai berikut:
1.    Metode pembiasaan
Adalah metode dengan cara penanaman kebiasaan, kebiasaan adalah pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya secara berulang-ulang untuk hal yang sama.[7]
2.    Metode keteladanan
Adalah metode dengan cara kita melihat dari seorang figur yang patut untuk diteladani.
3.    Metode ceramah.
Metode ini dilakukan dengan cara seorang guru hanya memberikan materi secara terus menerus dan murid atau siswa hanya suruh mendengarkan.
4.    Metode tanya jawab.
Adalah suatu cara mengajar dimana seorang guru mengajukan beberapa pertanyaan kepada peserta didik tentang bahan pelajarannyang telah diajarkan atau bacaan  yang telah mereka baca sambil memperhatikan proses berpikir diantara peserta didik.[8]
5.    Metode diskusi
Metode ini sama dengan metode musyawarah. Di dalam metode ini biasanya guru dan murid terlibat dalam sebuah forum perdebatan untuk memecahkan masalah yang ada.[9]
6.    Metode sorogan
Adalah metode dengan cara maju satu-satu menghadap guru untuk mengaji.[10]
7.    Metode bandongan
Adalah metode dimana para santri mengikutipelajaran dengan duduk disekeliling kyai yang menerangkan pelajaran, santri menyimak kitab masing-masing dan membuat catatan padanya.[11]
8.    Metode mudzakaroh
Metode ini dalam istilah lain adalah bahtsul masa’il, metode ini tidak jauh beda dengan metode musyawarah, Cuma pada mudzakarah ini pesertanya para kyai atau santri tingkat tinggi.
9.    Metode eksperimen
Adalah apabila seorang peserta didik melakukan sesuatu percobaan setiap proses dan hasil percobaan itu diamati oleh setiap peserta didik.[12]
10.     Metode drill atau latihan.
Adalah untuk memperoleh ketangkasan atau keterampilan latihan terhadap apa yang ia pelajari.[13]
11.     Metode sosiodrama
Adalah penyajian bahan dengan cara memperlihatkan peragaan, baik dalam bentuk uraian maupun kenyataan.[14]
12.     Metode simulasi
Adalah Tiruan atau perbuatan yang pura-pura saja.[15]
13.     Metode demonstrasi[16]
Adalah untuk menggambarkan suatu cara mengajar yang pada umumnya penjelasan verbal dengan suatu kerja fisik atau pengoperasian peralatan barang atau benda.[17]
14.     Metode pemberian ganjaran.
Adalah pemberian ganjaran yang baik terhadap perilaku baik dari anak didik.[18]
15.     Metode pemberian hukuman.
Adalah imbalan dari perbuatan yang tidak baik dari peserta didik.[19]
16.     Metode kisah.
Adalah suatu cara dalam menyampaikan materi pelajaran dengan menuturkan secara kronologis tentang bagaimana terjadinya sesuatu hal baik yang sebenarnya terjadi ataupun hanya rekaan saja.[20]
17.     Metode pemberian tugas.
Adalah peserta didik mengutip atau mengambil sendiri bagian-bagian pelajaran itu dari buku-buku tertentu, lalu belajar sendiri dan berlatih hingga siap sebagaimana mestinya.[21]
18.     Metode karya wisata.
Adalah suatu metode pengajaran yang dilaksanakan dengan jalan mengajak anak keluar kelas untuk dapat memperlihatkan hal-hal atau peristiwa yang ada hubungannya  dengan pelajaran.[22]
19.     Metode kerja lapangan.
Adalah merupakan suatu caramengajar yang bertujuanmemberikan pengalaman kerja nyata pada anak  didik di luar kelas (di mana saja bisa).[23]untuk menyelesaikan tugas yang telah ditetapkan dengan cara bersama-sama dan gotong-royong.[24]
20.  Metode kerja kelompok.
Adalah suatu cara menyajikan materi pelajaran di mana guru mengelompokkan siswa ke dalam beberapa kelompok atau grup tertentu.

2.    Bentuk-Bentuk Metode Pembiasaan
1.        Bersalaman dengan orang tua ketika berangkat maupun pulang sekolah.
2.        Bersalaman dengan Bapak atau ibu guru.
3.        Berdoa sebelum makan dan minum.
4.        Menghormati kepada orang yang lebih tua.
5.        Menyayangi kepada sesama teman.
6.        Berkata yang baik.
7.        Membiasaakan dengan menggunakan tangan kanan.
8.        Membiasakan berkata baik
9.        Membiasakan dengan memberi bukan menerima.
10.    Membuang sampah pada tempatnya.
Peserta didik atau anak-anak pada umumnya memiliki kebiasaan tertentu. Kebiasaan itu biasanya merupakan fenomena kembar. Ada kebiasaan baik dan ada pula kebiasaan buruk. Ada kebiasaan baik, tapi sesekali mengesankan kejengkelan, Ada pula kebiasaan buruk yang dapat diubah melalui pembelajaran. Beberapa kebiasaan dimaksud disajikan berikut ini;
a.    Kebiasaan tidur
Ada anak atau peserta didik yang tidurnya sangat lelep. Ada juga yang gelisah, mimpi buruk, atau bersungut-sungut ketika bangun pagi. Anak-anak yangyang bisa tidur nyenyak, biasanya ceria dan bersemangat ketika bangun, juga benar-banar siap ketika mau berangkat ke dan belajar di sekolah.
b.    Kebiasaan makan.
Ada anak yang doyan makan, ada pula yang sulit. Ada makannya sangat banyak dan ada pula yang sangat sedikit. Anak- anak yang terlalu banyak makan akan menghadapi resiko kegemukan, sebaliknya anak yang sangat sedikit makan, bukan tidak mungkin kekurangan gizi, sakit-sakitan, danberat badan di bawah standar. Anak-anak yang terlalu gemuk punrentan dengan penyakit, banyak tidur, dan bukan tidak mungkin menjadi malas belajar dan lamban dalam bergerak.
c.    Kebiasaan ke toilet.
Ada kalanya anak bermasalah dengan ususatau kandung kemihnya. Adakalanya mereka tidak teratur dalam pola makan dan minumnya, sehingga terpaksa keluar masuk toilet sekolah, ketika seharusnya belajar secara sungguh-sungguh. Tetapi, bukan tidak mungkin juga anak menyalahgunakan toilet untuk membuka catatan dalam rangka menjawab soal-soal ujian.
d.   Rentang emosi.
Secara emosional anak-anak sangat beragam, Ada yang menunjukan kemarahan, frustasi, kesedihan , kegelisahan, uring-uringan, dan sebagainya. Sebaliknya, ada juga yang menunjukan antusiasme, semangat, cinta kasih dan sebagainya.


e.    Persahabatan.
Seorang anak yang menjalani kondisi “ serba enak” atau tidak pernah mengalami masalah dalam perkembanganya, seringa kalia tidak cukup kompetitip secara sosial. Tentu saja anak yang selalu bermasalah lebih sulit menjalin persahabatan. Seorang anak yang takut pada teman sebaya atau mengklaim superiolitas atas temann-temanya, atau meragukan kemampuan pun sering bermasalah dalam persahabatan.
f.      Variasi dalam bermain.
Ada anak yang bermainya berlebihan, ada pula yang kurang waktu atau kesempatan bermain. Anak-anak yang terlalu ayik bermain, mungkin akan mengabaikan pelajaran. Sebaliknya, anak-anak yang tidak ada variasi mainan, bukan tidak mungkin menderiata kejenuhan. Anak –anak yang mampu kombinasikan blajar dan bermain dalam kadar yang cukup, biasanya hidupnya lebih damai.
g.    Respon atau otoritas.
Ada anak yang menerima baik otoritas orang dewasa atau gurunya, ada pula yang memberontak. Anak-anak yang mandiri, biasanya kurang menerima kekuatan otoritas.Sebaliknya, anak-anak yang menjadi pengikut baik, biasanya sangat tergantungpada pihak yang memiliki otoritas atau lebih kuasa.
h.    Rasa ingin tahu.
Sering kali peserta didik tertentu kadang-kadang menunujukan rasa ingin tahu, petualangan, dan bahkan cenderung merusak. Seorang peserta didik yang tidak pernah merasa puas akan apa yang yang telah diketauhinya sekarang, selalu mengembangkan rasa ingin tahu. Sebagian rasa ingin tahunya itu dipenuhi dengan caranya sendiri, sebagian lagi ingin diperolehnya dengan cara bertanya kepada guru atau orang dewasa.
i.      Minat.
Adakalanya anak atau peserta didik terlibat, menyerap, dan tertarik pada sesuatudi luar dirinya sendiri, penekanan di sini adalah pada keterlibatan berkelanjutan dalam “kegiatan” dari pada di “passivities” seperti menonton televisi.
j.      Afeksi spontan.
Sebagian anak bisa mengekspresikan afeksi atau kecintaan antar sesama secara spontan dan tanggung jawab,namun sebagian lagi cenderung tidak peduli dengan sesama, bahkan mengesankan antisoial.
k.    Kenikmatan hidup.
Sebagian besar anak atau peserta didik menikmati “hal-hal yang baik dalam hidup ini” sebagian lago kurang melaksanakanya. Banyak anak berpeluang untuk bermain dengan orang lain atau temannya, piknik,pesta, festifal, dan mengunjungi tempat-tempat baru, serta menjelajahi permainan baru yang merupakan bagian kehidupoan yang baik.[25]
Guru dan orang tua mengambil peran penting dalam pembinaan pengembangan kebiasaan itu. Keberhasilan mewujudkanya berarti mendorong kesejahteraan anakatau peserta didik dalamtakaran pengendalian yang wajar.
Guru dan orang tua hendaknya melatih hal-hal sebagai berikut;
a.         Membiasakan anak untuk diajak mengerjakan sholat maghrib dan isya’ di masjid yang terdekat, karena mengandung keutamaan yang besar.
b.        Membiasakan anak mengenakan pakaian yang layak setiap kali pergi ke masjid.
c.         Membiasakan anak tampil dengan penampilan yang menarik.
d.        Membiasakan anak masuk dengan tenang.
e.         Membiasakan masuk masjid dengan mendahulukan kaki kanan.
f.         Membiasakan anak untuk dilatih membaca doa-doa.[26]
3.    Tujuan Metode Pembiasaan
a)         Melatih kedisiplinan
b)        Membiasakan dengan hal yang baik
c)         Melatih menghormati orang lain (ta’dzim)
d)        Peserta didik mempunyai akhlak yang mulia
e)         Melatih menjaga kebersihan dan kesehatan.

B.     Pendidikan Akhlak
1.        Pengertian pendidikan akhlak
Pendidikan dilihat dari istilah bahasa Arab maka pendidikan mencakup beberapa pengertian, antara lain tarbiyah, tahzib, ta’lim, ta’dib, siyasat, mawa’izh, ‘ada ta’awwud dan tadrib. Sedangkan istilah tarbiyah, tahzib dan ta’dib sering dikonotasikan dengan pendidikan. Ta’lim diartikan pengajaran, siyasat diartikan siasat, pemerintahan, politik atau pengaturan. Muwa’izh diartikan pengajaran atau peringan. ‘Ada ta’wwud diartikan pembiasaan dan tadrib diartikan pelatihan.
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan Negara.[27]
Dalam pengertian yang sederhana makna pendidikan sering diartikan sebagai usaha masyarakat dan kebudayaan.[28] Usaha-usaha yang dilakukan untuk menanamkan nilai-nilai dan norma-norma tersebut serta mewariskannya kepada generasi berikutnya untuk dikembangkan dalam hidup dan kehidupan yang terjadi dalam suatu proses pendidikan. Karenanya bagaimanapun peradaban suatu masyarakat, di dalamnya berlangsung dan terjadi suatu proses pendidikan sebagai suatu usaha manusia untuk melestarikan hidupnya atau dengan kata lain bahwa pendidikan dapat diartikan sebagai suatu hasil peradaban bangsa yang dikembangkan atas dasar pandangan hidup bangsa itu sendiri (nilai dan norma masyarakat) yang berfungsi sebagai filsafat pendidikannya atau sebagai cita-cita dan pernyataan tujuan pendidikan.
Istilah di atas sering digunakan oleh beberapa ilmuwan seperti Ibn Miskawih dalam bukunya berjudul tahzibul akhlak dan Burdan al-Islam al-Zarnuji memberikan judul salah satu karyanya Ta’lim Muta’allim Tharik At-Ta’allum. Perbedaan ini tidak menjadi penghalang dan tidak perlu dipersoalkan karena pada hakikatnya semua pandangan yang berbeda itu bertemu dalam kesimpulan awal, bahwa pendidikan merupakan suatu proses penyiapan generasi muda untuk menjalankan kehidupan yang lebih baik lagi.
Apabila istilah pendidikan dikaitkan dengan Islam maka para ulama islam memiliki pandangan yang lebih lengkap sebagaimana pandangan Drs Hasan Basri memberikan pengertian bahwa, hakikat pendidikan Islam dapat diartikan secara praktis sebagai hakikat pengajaran Al-Qur’an dan As-Sunnah. Berdasarkan firman Allah SWT, dalam Surat Asy-Syura ayat 52 sebagai berikut:
y7Ï9ºxx.ur!$uZøym÷rr&y7øs9Î)%[nrâô`ÏiB$tR̍øBr&4$tB|MZä.Íôs?$tBÜ=»tGÅ3ø9$#Ÿwurß`»yJƒM}$#`Å3»s9urçm»oYù=yèy_#YqçRÏök¨X¾ÏmÎ/`tBâä!$t±®Sô`ÏB$tRÏŠ$t6Ïã4y7¯RÎ)urüÏöktJs94n<Î):ÞºuŽÅÀ5OŠÉ)tGó¡BÇÎËÈ
Artinya :   Dan Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Quran) dengan perintah kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui Apakah Al kitab (Al-Qur’an) dan tidak pula mengetahui Apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba kami. dan sesungguhnya kamu benar- benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus (Q.S. Asy-Syura: 52).[29]

Ayat di atas menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah cahaya yang memberi petunjuk  kehidupan. Jadi Hakikat pendidikan Islam adalah upaya tanpa putus asa untuk menggali hidayah yang terkandung dalam Al-Qur’an.[30]
Dalam konteks pendidikan Islam, Menurut Drs. H.M.habib Thaha, Ma, pendidikan Islam adalah pendidikan yang berdasarkan atas Al-Qur’an dan Sunnah Rasul, yang bertujuan membantu perkembangan manusia menjadi lebih baik.[31]
Melihat pandangan di atas yang telah diungkapkan oleh beberapa pakar atau ulama tentang pendidikan, maka kita perlu mengkaji kembali sejarah perkembangan pendidikan islam masa Rasulullah SAW. Proses penanaman akidah dan pembiasaan perilaku sesuai dengan ketentuan Islam kepada kaum Quraisy berlangsung secara bertahap membutuhkan kegigihan dan kesabaran. Kegigihan dan kesabaran Rasulullah ditransformasikan pada pembimbingan, pemberian motivasi, penanaman nilai, dan penciptaan kondisi yang lebih baik kemudian dapat merubah tatanan bangsa Arab secara keseluruhan.
Akhlak dalam bahasa Arab merupakan jama’ dari khuluq yang mengandung beberapa arti, dintaranya : Tabiat, yaitu sifat yang terbentuk oleh manusia tanpa dikehendaki tanpa diupayakan .Adat, Yaitu sifat dalam diri yang diupayakan manusia melalui latihan, yakni berdasarkan keinginannya.Watak, cakupannya meliputi hal-hal yang menjadi tabiat dan hal-hal yang diupayakan hingga menjadi adat[32]. Akhlak disamakan dengan kesusilaan, sopan santun. Khuluk merupakan gambaran sifat batin manusia, gambaran bentuk lahiriah manusia, seperti raut wajah, gerak anggota badan dan seluruh tubuh.[33] Dalam Al-Qur’an disebutkan S.Al-Qalam Ayat 4
y7¯RÎ)ur4n?yès9@,è=äz5OŠÏàtãÇÍÈ
Artinya :   Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung(Q.S. Al-Qalam: 4)[34]

Akhlak sering dikaitkan dengan etika, dan moral. Perkataan etika berasal dari bahasa Yunani ethos yang berarti kebiasaan. Di dalam Dictionary of Education bahwa etika adalah “The sciencie of human conduct, concerned with judgment of obligation (righteness or wrongness oughtness) and judgment of value (goodness and badness)”....Dengan kata lain bahwa etika adalah ilmu tentang tingkah laku manusia yang berkenaan dengan ketentuan tentang kewajiban yang menyangkut masalah kebenaran, kesalahan atau kepatuhan, serta ketentuan nilai yang menyangkut kebaikan atau keburukan.[35]
Sekalipun penggunaan istilah etika sering disamakan dengan istilah akhlak, namun jika diteliti secara seksama antara kedua terdapat perbedaan dan persamaan. Persamaan terletak pada obyek, yakni sama-sama membahas tentang baik dan buruknya tingkah laku manusia; sedangkan perbedaannya terletak pada para meter. Kalau etika menggunakan parameter akal, sedangkan akhlak menggunakan parameter agama, yang dalam hal ini adalah Al-Qur’an dan Hadist.[36]
Jadi, pendidikan akhlak merupakan fondasi utama dalam pembentukan manusia seutuhnya. Pribadi yang berakhlak akan melandasi kestabilan kepribadian manusia secara keseluruhan.
Allah SWT. Telah menjelaskan di dalam Al Qur’an surat Al Isra’ ayat:9 sebagai berikut :
¨bÎ)#x»ydtb#uäöà)ø9$#ÏökuÓÉL¯=Ï9šÏfãPuqø%r&çŽÅe³u;ãƒurtûüÏZÏB÷sßJø9$#tûïÏ%©!$#tbqè=yJ÷ètƒÏM»ysÎ=»¢Á9$#¨br&öNçlm;#\ô_r&#ZŽÎ6x.ÇÒÈ
Artinya:  Sesungguhnya Al Quran Ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi khabar gembira kepada orang-orang Mu'min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar” (QS: Al Isra’ : 9)[37]

2.        Tujuan Pendidikan Akhlak
Tujuan pendidikan akhlak adalah mencapai kebahagiaan hidup umat manusia dalam kehidupannya, baik di dunia maupun di akhirat. Jika seseorang dapat menjaga kualitas mu’amalah ma’allah dan  mu’amalah ma’annas, insya Allah akan memperoleh ridha-Nya. Orang yang menderita ridhaAllah niscaya akan memperoleh jaminan kebahagiaan hidup duniawi maupun ukhrawi.
Seseorang yang berakhlakul karimah pantang berbohong sekalipun terhadap diri sendiri dan tidak pernah menipu apalagi menyesatkan orang lain. Orang seperti ini biasanya dapat hidup dengan tenang dan damai, memiliki pergaulan luas dan banyak relasi, serta dihargai kawan dan disegani siapapun yang mengenalnya. Ketenteraman hidup orang berakhlak juga ditopang oleh perasaan optimis menghadapi kehidupan ukhrawi lantaran mu’amalah ma’allahnya sudah sesuai dengan ketentuan Allah., sehingga tidak sedikitpun terbetik perasaan khawatir untuk “mampir” di neraka.
Ketenteraman dan kebahagiaan hidup seseorang tidak berkorelasi positif dengan kekayaan, kepandaian, maupun jabatan. Jika seseorang berakhlakul karimah, terlepas apakah ia seorangyang kaya atau miskin, rendah atau tidak memilik jabatansama sekali, insyaallah akan mendapat kebahagiaan.[38]
Tujuan pendidikan akhlak yang dirumuskan Ibnu Maskawaih adalah terwujudnya sikap batin yang mampu mendorong secara spontan untuk melahirkan semua perbuatan bernilai baik sehingga mencapai kesempurnaan dan memperoleh kebahagiaan yang sempurna (al-sa’adat).[39]
Socrates berpendapat bahwa tujuan paling mendasar dari pendidikan adalah untuk membuat seseorang menjadi good and smart . Dalam sejarah islam, Rasulullah Muhammad SAW, Sang Nabi terakhir dalam ajaran islam, juga menegaskan bahwa misi utamanya dalam mendidik manusia adalah untuk mengupayakan pembentukan karakter yang baik. [40]
Pendidikan akhlak juga mempunyai tujuan-tujuan lain di antaranya:
1)      Mempersiapkan manusia-manusia yang beriman yang selalu beramal soleh. Tidak ada sesuatu pun yang menyamai amal soleh dalam mencerminkan akhlal mulia ini. Tidak ada pula yang menyamai akhlak mulia dalam mencerminkan keimanan seseorang kepada Allah dan konsistennya kepada manhaj Islam.
2)      Mempersiapkan insan beriman dan soleh yang menjalani kehidupannya sesuai dengan ajaran islam; melaksanakan apa yang di perintahkan agama dan meninggalkan apa yang diharamkan; menikmati hal-hal yang baik dan dibolehkan serta menjauhisegala sesuatu yang dilarang, keji, hina, buruk, tercela, dan mungkar.
3)      Mempersiapkan insan beriman dan soleh yang bisa berinteraksi secara baik dengan sesamanya, baik dengan orang muslim maupun nonmuslim. Mampu bergaul dengan orang-orang yang ada di sekelilingnya dengan mencari ridha Allah, yaitu dengan mengikuti ajaran-Nya dan petunjuk-petunjuk Nabi-Nya. Dengan semua ini dapat tercipta kestabilan masyarakat dan kesinambungan hidup umat manusia.
4)      Mempersiapkan insan beriman dan saleh yang mampu dan mau mengajak orang lain ke jalan Allah, melaksanakan amar ma’ruf nahi munkardan berjuang fi sabilillah demi tegaknya agama islam.
5)      Mempersiapkan insan beriman dan saleh, yang mau merasa bangga dengan persaudaraannya sesama muslim dan selalu memberikan hak-hak persaudaraan tersebut, mencintai dan membenci hanya karena Allah, dan sedikitpun tidak kecut oleh celaan orang hasad selama dia berada di jalan benar.
6)      Mempersiapkan insan beriman dan saleh yang merasa bahwa dia adalah bagian dariseluruh umat islam yang berasal dari berbagai daerah, suku, dan bahasa. Atau insan yang siap melaksanakan kewajiban yang harus ia penuhi demi seluruh umat islam selama ia mampu.
7)      Mempersiapkan insan beriman dan saleh yang merasa bangga dengan loyalitasnya kepada agama islam dan berusaha sekuat tenaga demi tegaknya panji-panji islam di muka bumi. Atau insan yang rela mengorbankan harta, kedudukan, waktu, dan jiwanya demi tegaknya syari’at Islam.[41]

3.        Fungsi Pendidikan Akhlak
1)   Membentuk manusia yang bertakwa kepada Allah SWT.
Seperti yang telah ditegaskan Allah bahwa manusia diciptakan di dunia hanyalah untuk menyembah kepada-Nya yaitu Q.S. Adz-Dzariyat;56.
$tBuràMø)n=yz£`Ågø:$#}§RM}$#uržwÎ)Èbrßç7÷èuÏ9ÇÎÏÈ
Artinya  : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.[42]
2)   Membentuk manusia yang suka tolong menolong
Manusia dalam hidupnya tidak sendirian, akan tetapi hidup bersama-sama (bermasyarakat), dalam kehidupan itu manusia supaya suka tolong menolong kepada sesama.
3)   Membentuk manusia yang jujur,adil, dan berani.
Akhlak Islam menganjurkan kepada setiap manusia yang merasa dirinya islam untuk berbuat kejujuran dan memiliki keberanian serta melaksanakan keadilan dalam anti di segala bidang. Jadi dalam melaksanakan tiga sikap tersebut, tidak boleh dipandang bulu dengan semboyan berani karena benar.
4)   Membentuk manusia yang saling menghormati.
Akhlak Islam menganjurkan kepada setiap manusia dalam pergaulan sehari-hari saling hormat-menghormati. Sehingga tidak akan terjadi olok-olokan dan mencela antar satu dengan yang lain.  Dengan demikian adanya pendidikan akhlak yang baik akan terbentuklah manusia yang memiliki hormat kepada sesamanya, karena pendidikan akhlak mendidik  dan mengarahkan kepada keabadian dan kebenaran.
5)   Membentuk manusia yang tabah dan percaya pada diri sendiri.
Manusia dalam hidupnya pasti mempunyai tujuan dan cita-cita untuk mencapainya banyak rintangan dan halanganyang menjadi ujian dalam dirinya sendiri. Untuk itu akhlak islam mengajarkan kepada manusia supaya dalam menempuh jalan hidupnya memiliki bekal ketakwaan, kesabaran, dan kepercayaan pada diri sendiri dan menjauhkan diri sendiri dan menjauhkan diri pada rasa putus asa.
6)   Membentuk manusia yang sopan santun.
Pendidikan akhlak memberikan pendidikan kepada manusia  untuk selalu membiasakan menjalankan perbuatan-perbuatan yang baik, bertingkah laku sopan, berkata yang baik, dan lemah lembut kepada siapa saja, baik dengan seseorang yang lebih kecil ataupun yang lebih besar[43].

C.    Aspek Perkembangan Anak Usia 5-12 Tahun
Periode anak-anak dimulai sejak anak berusia enam tahun sampai tiba saatnya individu menjadi matang.[44]



1.        Perkembangan Moral
Istilah moral berasal dari kata latin “mos” (moris), yang berarti adat istiadat, kebiasaan, peraturan, nilai-nilai atau tata cara kehidupan. Sedangkan moralitas merupakan kemauan untuk menerima dan melakukan peraturan, nilai-nilai atau prinsip-prinsip moral. Seseorang dapat dikatakan bermoral, apabila tingkah laku orang tersebut sesuai dengan nilai-nilai moral yang dijunjung tinggi oleh kelompok sosialnya.[45]Seseorang menjadi bermoral yang penting adalah bagaimana agar seseorang dapat menyesuaikan diri dengan tujuan hidup bermasyarakat(Dreeben,1968). Oleh karena itu, tahap awal perlu dilakukan pengondisian moral (moral conditioning) dan latihan moral (moral training) untuk pembiasaan.[46]
Menurut Piaget, antara usia dan dua belas tahun konsep anak mengenai keadilan sudah berubah. Pengertian yang kaku dan keras tentang benar dan salah, yang dipelajari dari orangtua, menjadi berubah dan anak mulai memperhitungkan keadaan khusus di sekitar pelanggaran mora, relativisme moral menggantikan moral yang kaku. Misalnya, bagi anak lima tahun, berbohong selalu buruk, sedangkan anak yang lebih besar sadar bahwa dalam beberapa situasi, berbohong dibenarkan, dan oleh karena itu, berbohong tidak selalu buruk.[47]
Nilai-nilai moral itu seperti seruan untuk berbuat baik kepada orang lain, memelihara ketertiban dan keamanan, memelihara kebersihan dan hak orang lain, larangan mencuri, berzina, membunuh, meminumminuman keras dan berjudi.[48]
Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral
Perkembangan moral seorang anak banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Anak memperoleh nilai-nilai moral dari lingkungannya, terutama dari orang tuanya. Peranan orang tua sangat penting, terutama pada waktu anak masih kecil. Beberapa sikap orang tua yang harus diperhatikan sehubungan dengan moral anak, diantaranya sebagai berikut.

a.    Konsisten dalam mendidik anak
Ayah dan ibu harus memiliki sikap dan perlakuan yang sama dalam melarang dan memperbolehkan tingkah laku tertentu kepada anak.
b.    Sikap orang tua dalam keluarga
Secara tidak langsung, sikap orang tua terhadap anak, sikap ayah terhadap ibu, atau sebaliknya dapat mempengaruhi perkembangan moral anak, yaitu melalui proses peniruan (imitasi).
c.    Penghayatan dan pengamalan agama yang dianut
Orang tua merupakan panutan bagi anak, termasuk di sini panutan dalam mengamalkan agama. Orang tua yang menciptakan iklim yang religius, dengan cara membersihkan ajaran atau bimbingan tentang nilai-nilai agama kepada anak, maka anak akan mengalami perkembangan moral yang baik.
d.   Sikap konsisten orang tua dalam menerapkan norma
Orang tua yang tidak menghendaki anaknya berbohong, atau berlaku tidak jujur, maka mereka harus menjauhkan dirinya dari perilaku berbohong atau tidak jujur.
Proses perkembangan moral anak dapat berlangsung melalui beberapa cara sebagai berikut:
1)        Pendidikan langsung
Yaitu melalui penanaman pengertian tentang tingkah laku yang benar dan salah, atau baik dan buruk oleh orang tua, guru atau orang tua dewasa lainnya. Di samping itu,yang paling penting dalam pendidikan moral ini, adalah keteladanan orang tua, guru atau orang dewasa lainnya dalam melakukan nilai-nilai moral.
2)        Identifikasi
Yaitu dengan cara mengidentifikasi atau meniru penampilan atau tingkah laku moral seseorang yang menjadi idolanya.
3)        Proses coba-coba (trial & error)
Yaitu dengan cara mengembangkan tingkah laku moral secara coba-coba. Tingkah laku yang mendatangkan pujian atau penghargaan akan terus dikembangkan, sementara tingkah laku yang mendatangkan hukuman atau celaan akan dihentikannya.[49]

2.        Perkembangan Emosi
Emosi memainkan peran yang penting dalam kehidupan anak. Akibat dari emosi ini juga dirasakan oleh fisik anak terutama bila emosi itu kuat dan berulang-ulang. Sering dan kuatnya emosi anak akan merugikan penyesuaian sosial anak. Seorang anak dengan kondisi keluarga yang kurang atau tidak bahagia, rasa rendah diri, memungkinkan terjadinya tekanan dalam emosi.
            Emosi yang nyata misalnya: takut, amarah, cemburu, iri hati kerap kali disebut sebagai emosi yang tidak menyenangkan atau “unpleasant emotion” merugikan perkembangan anak. Sebaliknya emosi yang menyenangkan “pleasant emotion” seperti : kasih sayang, kebahagiaan, rasa ingin tahu, suka cita, tidak saja membantu perkembangan anak tetapi sesuatu yang sangat penting dan dibutuhkan bagi perkembangan anak.
            Pergaulan yang semakin luas dengan teman sekolah dan teman sebaya lainnya akan mengembangkan emosinya. Anak mulai belajar bahwa ungkapan emosi yang kurang baik tidak diterima oleh teman-temannya. Anak belajar mengendalikan ungkapan-ungkapan emosi yang kurang dapat diterima seperti: amarah, menyakiti perasaan teman, menakut-nakuti dan sebagainya.
Ciri-ciri emosi masa kanak-kanak
1)   Emosi anak berlangsung relatif lebih singkat (sebentar)
Hanya beberapa menit dan sifatnya tiba-tiba. Hal ini disebabkan anak menampakkan emosi dirinya di dalam kegiatan atau gerakan yang nampak, sehingga menghasilkan emosi yang pendek, tidak seperti pada orang dewasa yang dapat berlangsung lama. Emosi yang khusus pada kanak-kanak adalah kesedihan, kemurungan, ketakutan, ketegangan, kebahagiaan, humor, dan sebagainya.
2)   Emosi anak kuat atau hebat
Hal ini terlihat bila anak takut, marah, atau sedang bersenda-gurau. Mereka akan tampak marah sekali, takut sekali, tertawa terbahak-bahak meskipun kemudian cepat hilang. Pada orang dewasa meskipun ia takut, ketakutan itu tidak begitu nampak kuat, begitu juga bila marah atau bersenda-gurau, marah dan tertawanya dikendalikan.
3)   Emosi anak mudah berubah
Sering kita jumpai seorang anak yang baru saja menangis berubah menjadi tertawa, dari marah berubah tersenyum, sering terjadi perubahan, saling berganti-ganti emosi, dari emosi susah ke emosi senang dan sebaliknya dalam waktu yang singkat.
4)   Emosi anak nampak berulang-ulang
Hal ini timbul karena anak dalam proses perkembangankearah kedewasaan. Ia harus mengadakan penyesuaian dengan situasi di luar, dan hal ini dilakukan secara berulang-ulang. Anak sering menangis, sering marah, sering takut, mungkin anak sehari menangis 7 kali dan marah 5 kali dan seterusnya.
5)   Respons emosi anak berbeda-beda
Pengamatan terhadap anak dengan berbagai tingkat usia menunjukkan bervariasinya respons emosi. Pada waktu bayi lahir, pola responsnya sama. Secara berangsur-angsur, pengalaman belajar dari lingkungannya membentuk tingkah laku dengan perbedaan emosi secara individu. Misalnya anak yang dibawa ke dokter gigi, responsnya ada yang tertawa, ada yang menangis, ada yang tidak memperlihatkan reaksi apapun.
6)   Emosi anak dapat diketahui atau dideteksi dari segala tingkah lakunya.
Meskipun anak kadang-kadang tidak memperlihatkan reaksi emosi yang nampak dan langsung, namun emosi itu dapat diketahui dari tingkah lakunya, misalnya gelisah, melamun, menghisap jari, sering menangis dan sebagainya.
7)   Emosi anak mengalami perubahan dalam kekuatannya.
Suatu ketika emosi itu begitu kuat, kemudian berulang. Emosi yang lain mula-mula lemah kemudian berubah menjadi kuat. Misalnya: seorang anak memperlihatkan rasa malu-malu ditempat yang masih asing. Kemudian ketika ia sudah tidak merasa asing lagi rasa malunya berkurang atau bahkan hilang.
8)   Perubahan dalam ungkapan-ungkapan emosional
Anak-anak memperlihatkan keinginan yang kuat terhadap apa yang mereka inginkan. Ia tidak mempertimbangkan bahwa keinginan itu merugikan baik untuk dirinya sendiri maupun orang lain, juga tidak mempertimbangkan bahwa untuk memenuhi keinginannya untuk memerlukan biaya yang tidak terjangkau oleh orang tuanya. Bila keinginannya tidak terpenuhi ia akan marah. Sebaliknya jika ia merasa senang, bahagia, tanpa melihat tempat dan waktu ia akan tersenyum dan tertawa, meskipun orang lain kadang-kadang tidak mengetahui apa yang dirasakan oleh anak.[50]

3.        Perkembangan Sosial
Perkembangan emosi tak dapat dipisahkan dengan perkembangan sosial, yang sering disebut sebagai perkembangan tingkah laku sosial. Ciri yang membedakan antara manusia dengan makhluk yang lain adalah ciri sosialnya. Sejak lahir anak dipengaruhi oleh lingkungan sosial dimana ia berada secara terus menerus. Orang-orang disekitarnyalah yang banyak mempengaruhi perilaku sosialnya. Sejak permulaan hidupnyakehidupan sosial dan emosi selalu terlibat setiap kali anak berhubungan dengan orang lain.
Dunia sosio-emosional anak menjadi semakin kompleks dan berbeda pada masa ini. Interaksi dengan keluarga dan teman sebaya memiliki peran yang penting. Sekolah dan hubungan dengan guru menjadi hal yang penting dalam hidup anak. Pemahaman tentang diri dan perubahan dalam perkembangan gender dan moral menandai perkembangan anak selama masa kanak-kanak terakhir.
1)   Kegiatan Bermain
Dibanding dengan masa sebelumnya, anak pada masa kanak-kanak akhir sudah masuk sekolah, sehingga mau tidak mau akan mengurangi waktu bermain dari pada masa sebelumnya. Hal ini ditunjang dengan banyaknya acara di TV, radio serta buku-buku bacaan yang banyak disajikan untuk anak usia kelompok usia ini. Bermain sangat penting bagi perkembangan fisik, psikis dan sosial anak. Dengan bermain anak berinteraksi dengan teman main yang banyak memberikan berbagai pengalaman berharga. Bermain secara kelompok memberikan peluang dan pelajaran kepada anak untuk berinteraksi, bertenggang rasa dengan sesama teman.
Permainan yang disukai cenderung kegiatan bermain yang dilakukan secara berkelompok, kecuali bagi anak-anak yang kurang di terima oleh kelompoknya dan cenderung memilih bermain sendiri. Permainan konstruktif yaitu membangun atau membentuk sesuatu adalah bentuk permainan yang juga disukai anak serta mampu mengembangkan kreativitas anak. Bernyanyi merupakan bentuk kreativitas lainnya. Selain itu bentuk permainan kelompok yang disenangi merupakan bentuk permainan olahraga seperti basket, sepak bola, volley, dan sebagainya. Jenis permainan ini membantu perkembangan otot dan pembentukan tubuh.
2)   Teman sebaya
Teman sebaya pada umumnya adalah teman sekolah atau teman bermain di luar sekolah. Pengaruh teman sebaya sangat besar bagi arah perkembangan sosial anak baik yang bersifat positif maupun negatif. Pengaruh positif terlihat pada pengembangan konsep diri dan pembentukan harga diri. Hanya di tengah-tengah teman sebaya anak bisa merasakan dan menyadari bagaimana dan dimana kedudukan atau posisi dirinya. Teman sebaya juga memberikan pelajaran bagaimana cara bergaul di masyarakat. Sebaliknya teman sebaya juga memungkinkan untuk membawa pengaruh negatif, seperti merokok, mencuri, membolos, menipu serta perbuatan-perbuatan antisosial lainnya. Bahkan tidak jarang pengaruh negatif itu diikuti dengan ancaman dan pemerasan. Ada kecenderungan bahwa anak laki-laki memiliki hubungan teman sebaya yang lebih luas dari pada anak perempuan.
Minat terhadap kegiatan kelompoksebaya mulai muncul. Mereka memiliki teman-teman sebaya untuk melakukan kegiatan bersama. Integritas dengan kelompoknya cukup tinggi, ada keterikatan satu sama lain, sehingga mereka merasa perlunya untuk bersama-sama. Kegiatan untuk berada di tengah-tengah temannya membawa anak untuk keluar rumah menemuinya sepulang sekolah. Anak merasa kesepian di rumah, tiada teman. Kegiatan dengan sebaya ini meliputi belajar bersama, melihat pertunjukan, bermain, masak memasak dan sebagainya. Mereka sering melakukan kegiatan yang dilakukan orang dewasa.[51]

4.        Perkembangan kesadaran beragama
Salah satu kelebihan manusia sebagai makhluk  Allah SWT, adalah dia dianugerahi fitrah (perasaan dan kemampuan) untuk mengenal Allah dan melakukan ajaran Nya. Dalam kata lain, manusia dikaruniai insting religius (naluri beragama) karena memiliki fitrah ini manusia dijuluki sebagai “homo devinans” dan “homo religious” yaitu makhluk yang bertuhan dan beragama.
Fitrah beragama ini merupakan disposisi (kemampuan dasar) yang mengandung kemungkinan berpeluang untuk berkembang. Namun mengenai arah  dan kualitas perkembangan anak dalam beragama sangat bergantung kepada proses pendidikan yang diterimanya. Hal ini sesuai dengan yang di nyatakan nabi dalam haditsnya “setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, hanya karena orang tuanyalah, anak itu menjadi Yahudi, Nasrani dan Majusi”.
Perkembangan beragama seseorang dipengaruhi oleh faktor-faktor pembawaan dan lingkungan.  
1)   Faktor Pembawaan (internal)
Perbedaan hakiki antara manusia dengan hewan adalah manusia mempunyai fitrah (pembawaan) beragama (homo religius).
Setiap manusia yang lahir di dunia ini, baik yang masih primitif, bersahaja, maupun yang sudah modern, baik yang lahir di negara komunis maupun kapitalis, baik yang lahir dariorang tua yang shaleh maupun jahat, sejak nabi Adam sampai akhir jaman, menurut fitrah kejadiannya mempunyai potensi beragama atau keimanan kepada tuhan atau percaya kekuatan di luar dirinya yang mengatur hidup dan kehidupan alam semesta.
Kenyataan di atas menunjukkan bahwa manusia mempunyai fitrah,[52] manusia diciptakan Allah SWT dengan sempurna dan memiliki berbagai kelebihan dibandingkan makhluk-makhluk yang lain. Ada lima kelebihan yang dimiliki oleh manusia
Kelebihan pertama manusia diciptakan Allah dengan bentuk yang sempurna, sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam surat At-Tiin ayat:4
ôs)s9$uZø)n=y{z`»|¡SM}$#þÎûÇ`|¡ômr&5OƒÈqø)s?ÇÍÈ
Artinya :     Sesungguhnya kami (Allah) telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya(Q.S. At-tin 95:4)[53]

Kelebihan kedua, manusia diberi nafsu oleh Allah. Dengan nafsu itulah manusia dapat hidup dan menjalankan fungsi sebagaimana mestinya. Nafsu manusia dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian. Pertama nafsu rububiyah yaitu dorongan untuk mengenal, mendekatkan diri dan beribadah kepada Allah. Yang kedua nafsu insaniyyah yakni dorongan atau kecenderungan yang bersifat manusiawi. Yang ketiga nafsu syaitoniyyah yakni dorongan atau kecenderungan yang berasal dari bisikan setan.
Kelebihan ketiga, manusia diberi oleh Allah berupa hati nurani (qolbu) dia berfungsi sebagai penengah antara akal dan nafsu.
Kelebihan keempat, bagi manusia adalah diberi kebebasan untuk menentukan pilihan, dalam hal apapun kecuali takdir Allah.[54]

5.        Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan
Sudah menjadi pendapat umum bahwa orang tua yang tinggi memiliki anak yang tinggi, sebaliknya orang tua yang pendek memiliki anak yang pendek pula. Dari situ banyak orang yang mengambil kesimpulan bahwa kecenderungan mengenai tinggi atau pendeknya seorang anak tampaknya sebagian besar dipengaruhi oleh keturunan.[55]



1. Hereditas (keturunan /pembawaan)
Hereditas merupakan faktor pertama yang mempengaruhi perkembangan individu. Dalam hal ini hereditas diartikan sebagai “totalitas karakteristik individu yang diwariskan orang tua kepada anak, atau segala potensi, baik fisik maupun psikis yang dimiliki individu sejak masa konsepsi (pembuahan ovum oleh sperma) sebagai pewarisan dari pihak orang tua melalui gen-gen”.[56]
Bukti pengaruh hereditas menurut McDevitt dan Ormrod, hasil penelitian membuktikan bahwa ukuran kecepatan pengelolaan informasi berkorelasi positif dengan skor IQ. Kecepatan pemrosesan tergantung pada efisiensi neurologis dan kematangan yang dikendalikan secara genetik. Dari sudut pandang ini ada bukti kuat bahwa tingkat kecerdasan seseorang sangat ditentukan oleh faktor keturunan.[57]

Ø Factor-Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Prenatal
*) Kesehatan Ibu
        Penyakit yang di derita ibu hamil dapat mempengaruhi perkembangn masa prenatal. Apalagi penyakit tersebut bersifat kronis seperti kencing manis, TBC, radang saluran kencing, penyakit kelamin dan sebagainya dapat mengakibatkan bayi-bayi cacat.
        Demikian pula bila terjadi keturunan ketiga janin berusia tiga bulan disertai dengan gangguan kesehatan pada ibu maka dapat merusak perkembangan janin.

*) Gizi Ibu
Factor lain yang cukup berpengaruh terhadap perkembangan masa prenatal adalah gizi ibu. Hal ini karena janin yang sedang berkembang sangat tergantung pada gizi ibunya, yang diperoleh melalui darah ibunya. Oleh karena itu makanan ibu-ibu yang sedang hamil harus mengandung cukup protein, lemak, vitamin dan karbohodrat untuk menjaga kesehatan bayi. Anak-anak yang dilahirkan oleh ibu yang kekurangan gizi cenderung cacat.

*) Pemakaian Bahan-Bahan Kimia Oleh Ibu
Bahan-bahan kimia yang terdapat pada obat-obatan atau makanan yang ada dalam peredaran darah ibu yang tengah hamil dapat mempengaruhi perkembangan janin.bahan-bahan kimia tersebut dapat menimbulkan efek samping, baik pada fisik maupun pada system kimiawi dalam tubuh janin yang dinamakan metabolite.
Dampak penggunaan obat-obatan selama kehamilan
Obat-Obatan
Dampaknya Pada Janin Dan Anak
Alkohol
Jumlah kecil menambah resiko aborsi spontan.jumlah sedang (1-2 kali minum sehari) diasosiasikan dengan munculnya ketidakmampuan memberikan pada masa bayi. Jumlah banyak menyebabkan sindrom alcohol janin. Menurut beberapa ahli, jumlah kecil hingga sedang, khususnya pada3 bulan pertama kehamilan dapat meningkatkan sindrom alcohol janin.
Nikotin/Rokok

      Merokok berat diasosiasikan dengan rendahnya berat lahir bayi, yang berarti dapat mengidap lebih banyak masalah kesehatan dibandingkan dengan bayi lain. Merokok dapat membahayaklan khususnya pada pertengahan kedua kehamilan.

         Barbiturates

Selama 3 bulan pertama kehamilan, obat penenang dapat menyababkan langit-langit mulut terbelah atau cacat bawaan lahir.

Ibu yang memakai dosis tinggi dapat membuat bayi kecanduan, mengalami gemetar, gelisah dan mudah terluka.
         Amfetamin kokain

Amfetamin dapat menyebabkan kelainan lahir menyebabkan ketergantungan obat-obatan dan gejala buruk pada kelahiran, baik fisik maupun mental, khususnya kalau ibu menggunakan pada 3 bulan pertama kehamilan, seperti hipertensi, masalah jantung, keterbelakangan pertemkembangan, dan kesulitan belajar     
Marijuna
Dapat menyebabkan berbagai kelainan lahir dan diasosiasikan dengan rendahnya berat dan panjang bayi.

*) Keadaan Dan Ketegangan Emosi Ibu
Keadaan emosi ibu selama kehamilan juga mempunyai pengaruh yang besar terhadap masa prenatal. Hal ini karena ketika seorang ibu hamil mengalami ketakutan, kecemasan, stress, dan emosi lain yang mendalam, maka terjadi perubahan psikologis, antara lain meningjatnya pernafasan dan sekresi oleh kelenjar. Adanya produksi hormone adrenalin sebagai tanggapan terhadap ketakukan akan menghambat aliran darah ke daerah kandungan dan membuat janin kekurangan udara.

Ø Kelahiran
Studi psikologis tentang kelahiran relative baru disbanding dengan studi medis. Studi psikologis tantang kelahiran lebih difokuskan pada bagaimana pengaruhnya terhadap perkembangan pascalahir, kondisi lingkungan pralahir, dan sejumlah factor lain yang mempengaruhi perkembangan sebelum dan sesudah lahir. Perhatian juga difokuskan pada prematuritas dan pengaruhnya secara langsung dan jangka panjang terhadap perkembangn anak.

Ø Tahap-Tahap Kelahiran
Para ahli spikologi membagi proses kelahiran dalam tiga tahap
Tahap pertama terjadi kontraksi peranakan yang berlangsung sekitar 15-20 menit pada permulaan dan berakhir hingga 1 menit. Kontraksi ini menyebabkan leher rahim terentang dan terbuka ketika tahap pertama berlangsung, kontraksi semakin sering, yang terjadi setiap 2 hingga 5 menit. Intensitasnya juga meningkat. Pada akhir tahap pertama kelahiran , kontraksi memperlebar leher rahim hingga terbuka sekitar 4 inci sehingga bayi dapat bergerak dari peranakan ke saluran kelahiran.
Tahap kedua, dimulai ketika kepala bayi bergerak melalui leher rahim dan saluran kelahiran. Tahap ini berakhir ketika bayi benar-benar keluar dari tubuh ibu. Tahap ini berlangsung kira-kira 1,5 jam. Pada setiap kontraksi, ibu mengalami kesakitan untuk bayi keluar dari tubuhnya. Pada waktu kepala bayi keluar dari tubuh ibu, kontraksi terjadi hamper setiap menit dan berlangsung kira-kira 1 menit.
Tahap ketiga, setelah bayi lahir. Pada waktu ini ari-ari, tali pusar, dan selaput lain dilepaskan dan dibuang. Tahap akhir inilah yang paling pendek, yang berlangsung hanya bebrapa menit saja.

Ø Pengaruh Kelahiran Terhadap Perkembangan Pascalahir
Studi psikologis dan medis telah menunjukan bebrapa kondisi yang menimbulkan pengaruh kelahiran terhadap perkembangan pascalahir. Diantara kondisi-kondisi kelahiran yang mempengaruhi perkembangan pascalahir itu adalah

*) Jenis Kelahiran
Jenis kelahiran merupakan kondisi pertama yang menyebabkan kelahiran yang dapat mempengaruhi perkembangan pascalahir. Secara umum kelahiran dapat dibedakan atas lima jenis
(1) kelahiran normal atau spontan
(2) kelahiran dengan peralatan
(3) kelahiran sungsang
(4) kelahiran melintang
(5) kelahiran melalui pembedahan Caesar.

*) Pengobatan Ibu
Kondisi kedua yang dikaitka dengan kelahiran yang mempengaruhi pascalahir adalah obat-obatan yang digunakan ibu sebelum dan selam proses kelahiran. Belakangan ini, ibu-ibu yang akan mekahirkan sering menggunakan obat-obtan dengan maksud menghilangkan rasa sakit atau mempercepat proses melahirkan. Hasil penelitian menunjukan bahwa semakin banyak obat yang diberikan pada ibu saat melahirkan, semakoin lama dan sulit bayi menyesuaikan diri dengan kehidupan pascalahir.

*) Lingkungan Pralahir
Kondisi kelahiran ketiga yang mempengaruhi penyesuaian pascalahir ialah jenis lingkungan pralahir. Setiap kondisi dalam lingkungan pralahir yang menghalangi perkembangan janin sesuai dengan table waktu yang normal, akan lebih banyak mengakibatkan kesulitan pada saat lahir dan penyesuaian pascalahir dibandingkan dengan kondisi lingkungan yang nyaman.

*) Jangka Waktu Periode Kahamilan
Kondisi keempat yang berkaitan dengan kelahiran yang mempengaruhi perkembangan pascalahir adalah lamanya periode kahamilan. Walaupun lama rata-rata kehamilan 38 minggu atau 266 hari, namun hanya sedikit bayi yang lahir tepat pada waktunya. Ada kalanya bayi lahir lebih awal dan ada kalanya bayi lahir lebih lambat dari waktu rata-rata tersebut. Bayi yang lahir lebih awal dari waktu rata-rata disebut “prematur” sedangkan bayi yang lahir lebih lambat disebut “postmatur”.

*)Perawatan Pascalahir
Kondisi kelahiran yang kelima yang mempengaruhi perkembangan pascalahir adalah jenis perawatan yang diperoleh bayi pada hari-hari pertama kelahirannya. Kelahiran merupakan “drama penjebolan” secara drastic, yang disertai dengan perubahan-perubahan kondisi secara radikal revolusioner dari seorang bayi. Hal ini dapat dipahami, sebab setelah 9 bulan berada dalam lingkungan rahim yang relative stabil dan aman, janin tiba-tiba berada dalam lingkungan, yang bukan saja berbeda tapi juga sangat bervariasi.

*)Sikap Orang Tua
Kondisi kelahiran keenam yang berpebengaruh terutama terhadap penyesuaian diri pascalahir adalah sikap orangtua. Bila sikap orang yua menguntungkan, hubungan orang tua dan anak akan baik. Hubungan baik orang tua-anak ini akan membantu bayi dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan baru yang dialami setelah lahir.[58]

Ø Bentuk Tubuh Dan Warna Kulit
Salah satu warisan yang di bawa oleh anak sejak lahir adalah mengenai bentuk tubuh dan warna kulit. Cukup besar pengaru turunan terhadap pertumbuhan jasmani anak. Bagaimanapun tingginya teknologi untuk mengubah bentuk dan warna kulit seseorang, namun factor turunan tidak dapat di abaikan begitu saja.

Ø Sifat-Sifat
Sifat-sifat yang dimiliki seseorang adalah salah satu aspek yang dimiliki dari ibu, ayah, atau nenek dan kakek. Bermacam-macam sifat yang dimiliki manusia misalnya: penyabar, pemarah, kikir, pemboros, hemat, dan sebagainya.
Sifat-sifat tersebut dibawa manusia sejak lahir. Ada yang dapat dilihat atau diketahui selagi anak-anak masih kecil ada pula yang diketahui selagi dia sudah besar.
Sifat atau tabiat berbeda dengan kebiasaan. Sifat sangat sukar di ubah, sedangkan kebiasaan bisa diubah setiap saat bila dikehendaki dengan sungguh-sungguh.Sifat dan kebiasaan merupakan corak dari kepribadian seseorang, atau suatu suku bangsa.
Para ahli psikolog telah membagi tipe-tipe manusia berdasarkan sifatbyang dimilikinya. Salah satu pembagian yang dikemukakan Edward Spranger adalah:
*manusia ekonomi : memiliki sifat hemat, rajin bekerja, dan sebagainya.
*manusia teori : suka berfikir, meneliti dan sebagainya.
*manusia politik : suka menguasai dan memerintah.
*manusia social : suka menderma dan membantu orang lain.
*manusia seni : suka keindahan dan memiliki perasaan halus.
*manusia agama : suka mengabdi dan taat melaksanakan ibadah.

Ø Intelegensi
Intelegensi adalahkemempuan yang bersifat umum untuk mengadakan penyesuaian terhadap suatu situasi atau masalah. Kemampuan yang bersifat umum itu meliputi berbagai jenis kemampuan psikis seperti abstrak, berfikir mekanis, matematis, memahami, mengingat, berbahasa dan sebagainya.
Kemempuan umum atau intelagensi seseorang dapat diketahui secara tepat dengan menggunakan tes intelegensi. Di sekolah yang tidak memeiliki tes intelegensi, nilai rata-rata rapor murid dapat menjadi penggantinya karena nilai rapor merupakan gambaran tentang kecerdasan umum pada setiap anak. Melalui rapor dapat diketahui tingkat kecerdasan anak dibandingkan dengan teman-teman sekelasnya, walaupun belum merupakan gambaran intelegensi yang standar.[59]

2.  Lingkungan
Lingkungan adalah keseluruhan fenomena (peristiwa, situasi, atau kondisi) fisik/alam atau sosial yang mempengaruhi atau dipengaruhi perkembangan individu.[60]Urie Bronfrenbrenner dan Ann Crouter (Sigelman dan Shaffer, :86) yang dikutip oleh Syamsu Yusuf dalam bukunya yang berjudul psikologi perkembangan remaja dan anak mengemukakan bahwa lingkungan perkembangan merupakan “berbagai peristiwa, situasi atau kondisi di luar organisme yang diduga mempengaruhi atau dipengaruhi oleh perkembangan individu.

a)Lingkungan keluarga
Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang bersifat universal, artinya terdapat pada setiap masyarakat di dunia atau suatu sistem sosial yang terpancang dalam sistem sosial yang lebih besar.[61]
1.    Peran dan fungsi keluarga
Fungsi keluarga dapat diklasifikasikan sebagai berikut
a.     Fungsi biologis
Para anggotanya untuk memenuhi dasar biologisnya. Kebutuhan itu meliputi (a) pangan, sandang dan papan, (b) hubungan seksual suami istri (c) reproduksi atau pengembangan keturunan (keluarga yang dibangun melalui pernikahan merupakan tempat “penyemaian” bibit-bibit insani yang fitrah). Dalam memenuhi kebutuhan pangan, perlu diperhatikan tentang kaidah “halalan thoyyiban” (halal dan bergizi). Nilai halal sangat diutamakan, karena dalam agama dikemukakan bahwa setiap yang tumbuh dari yang haram, maka neraka lebih utama darinya.
#sŒÎ)urãLäêø)¯=sÛuä!$|¡ÏiY9$#z`øón=t6sù£`ßgn=y_r&Ÿxsù£`èdqè=àÒ÷ès?br&z
`ósÅ3Ztƒ£`ßgy_ºurør&#sŒÎ)(#öq|ʺts?NæhuZ÷t/Å$rã÷èpRùQ$$Î/3y7Ï9ºsŒàátãqヾÏmÎ/
`tBtb%x.öNä3ZÏBß`ÏB÷sル!$$Î/ÏQöquø9$#ur̍ÅzFy$#3ö/ä3Ï9ºsŒ4s1ør&ö/ä3s9
ãygôÛr&ur3ª!$#urãNn=÷ètƒ÷LäêRr&urŸwtbqßJn=÷ès?ÇËÌËÈ
Artinya: Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. dan kewajiban ayah memberi makan dan Pakaian kepada para ibu dengan cara ma'ruf. seseorang tidak dibebani melainkan menurut kadar kesanggupannya. janganlah seorang ibu menderita kesengsaraan Karena anaknya dan seorang ayah Karena anaknya, dan warispun berkewajiban demikian. apabila keduanya ingin menyapih (sebelum dua tahun) dengan kerelaan keduanya dan permusyawaratan, Maka tidak ada dosa atas keduanya. dan jika kamu ingin anakmu disusukan oleh orang lain, Maka tidak ada dosa bagimu apabila kamu memberikan pembayaran menurut yang patut. bertakwalah kamu kepada Allah dan Ketahuilah bahwa AllahMaha melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S.Al-Baqarah:232)[62]

b.     Fungsi ekonomis
Keluarga (dalam hal ini ayah) mempunyai kewajiban untuk menafkahi anggota keluarganya (istri dan anak). Fungsi ekonomi keluargasangat penting bagi kehidupan keluarga, karena mereka pendukung utama bagi kebutuhan kelangsungan keluarga. Fungsinya meliputi; pencarian nafkah, perencanaan serta penggunanya. Serta kemungkinan menambah saling pengertian, solidaritas dan tanggung jawab bersama dalam keluarga itu. Pemenuhan fungsi ekonomi keluarga mesti dilakukan secara wajar, artinya tidak kekurangan dan tidak pula kelebihan karena dapat membawa pengaruhpengaruh negatif bagi keluarga anggota keluarga itu sendiri.
c.     Fungsi pendidikan (edukatif)
Keluarga merupakan fungsi pendidikan pertama dan utama bagi anak. Keluarga berfungsi sebagai “transmiter budaya atau mediator” sosial budaya bagi anak. Fungsi keluarga bagi pendidikan adalah menyangkut penanaman, pembimbingan atau pembiasaan nilai-nilai agama, budaya dan keterampilan-keterampilan tertentu yang bermanfaat bagi anak. Al Quran surat Lukman ayat 12 – ayat19
ôs)s9ur$oY÷s?#uäz`»yJø)ä9spyJõ3Ïtø:$#Èbr&öä3ô©$#¬!4`tBuröà6ô±tƒ
$yJ¯RÎ*sùãä3ô±o¾ÏmÅ¡øÿuZÏ9(`tBurtxÿx.¨bÎ*sù©!$#;ÓÍ_xîÓÏJymÇÊËÈ
øŒÎ)urtA$s%ß`»yJø)ä9¾ÏmÏZö/ewuqèdur¼çmÝàÏètƒ¢Óo_ç6»tƒŸwõ8ÎŽô³è@«!$$Î/(
žcÎ)x8÷ŽÅe³9$#íOù=Ýàs9ÒOŠÏàtãÇÊÌÈ
$uZøŠ¢¹ururz`»|¡SM}$#Ïm÷ƒyÏ9ºuqÎ/çm÷Fn=uHxq¼çmBé&$·Z÷dur4n?tã9`÷dur¼çmè=»|ÁÏùur
ÎûÈû÷ütB%tæÈbr&öà6ô©$#Í<y7÷ƒyÏ9ºuqÎ9ur¥n<Î)玍ÅÁyJø9$#ÇÊÍÈ
bÎ)urš#yyg»y_#n?tãbr&šÍô±è@Î1$tB}§øŠs9y7s9¾ÏmÎ/
ÖNù=ÏæŸxsù$yJßg÷èÏÜè?($yJßgö6Ïm$|¹urÎû$u÷R9$#$]ùrã÷ètB(ôìÎ7¨?$#urŸ@Î6yô`tB
z>$tRr&¥n<Î)4¢OèO¥n<Î)öNä3ãèÅ_ötBNà6ã¥Îm;tRé'sù$yJÎ/óOçFZä.tbqè=yJ÷ès?ÇÊÎÈ
¢Óo_ç6»tƒ!$pk¨XÎ)bÎ)à7s?tA$s)÷WÏB7p¬6ymô`ÏiB5AyŠöyz`ä3tFsùÎû>ot÷|¹÷rr&
ÎûÏNºuq»yJ¡¡9$#÷rr&ÎûÇÚöF{$#ÏNù'tƒ$pkÍ5ª!$#4¨bÎ)©!$#ì#ÏÜs9׎Î7yzÇÊÏÈ
¢Óo_ç6»tƒÉOÏ%r&no4qn=¢Á9$#öãBù&urÅ$rã÷èyJø9$$Î/tm÷R$#urÇ`tã̍s3ZßJø9$#÷ŽÉ9ô¹$#ur
4n?tã!$tBy7t/$|¹r&(¨bÎ)y7Ï9ºsŒô`ÏBÇP÷tãÍqãBW{$#ÇÊÐÈ
ŸwuröÏiè|Áè?š£s{Ĩ$¨Z=Ï9ŸwurÄ·ôJs?ÎûÇÚöF{$#$·mttB(¨bÎ)©!$#
Ÿw=Ïtä¨@ä.5A$tFøƒèC9qãsùÇÊÑÈ
ôÅÁø%$#urÎûšÍô±tBôÙàÒøî$#ur`ÏBy7Ï?öq|¹4¨bÎ)ts3Rr&
ÏNºuqô¹F{$#ßNöq|Ás9ÎŽÏJptø:$#ÇÊÒÈ
Artinya: “12.  Dan Sesungguhnya Telah kami berikan hikmat kepada Luqman, yaitu: "Bersyukurlah kepada Allah. dan barangsiapa yang bersyukur (kepada Allah), Maka Sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri; dan barangsiapa yang tidak bersyukur, Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya lagi Maha Terpuji".
13. Dan (Ingatlah) ketika Luqman Berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: "Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar".
14.  Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya Telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun[1180]. bersyukurlah kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.
15.  Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, Maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku, Kemudian Hanya kepada-Kulah kembalimu, Maka Kuberitakan kepadamu apa yang Telah kamu kerjakan.
16.  (Luqman berkata): "Hai anakku, Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (membalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus[1181] lagi Maha Mengetahui.
17.  Hai anakku, Dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan Bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
18.  Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri.
19.  Dan sederhanalah kamu dalam berjalan[1182] dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai

Menurut Zakiyah Darajat ayat-ayat ini berisi : pembinaan jiwa orang tua (kewajiban bersyukur kepada Allah) pembinaan/pendidikan kepada anak yang menyangkut aspek-aspek iman dan tauhid (tidak memusyrikkan Allah), akhlak/kepribadian (bersyukur kepada Allah dan kepada kedua orang tua, bersikap sabar dalam menghadapi musibah, dan tidak sombong kepada orang lain), ibadah (menegakkan shalat dan, bertaubat, rajin beramal shaleh dan da’wah(memerintah/mengajak orang lain untuk melakukan kebaikan dan melarang atau mencegah orang lain berbuat kejahatan/keburukan). Uraian diatas menunjukkan bahwa tanggungjawab orang tua dalam mendidik anak tidak hanya sebatas anak mampu mempertahankan hidupnya, namun lebih dari itu yaitu mampu memaknai hidupnyaatau memahami misi suci hidupnya sebagai hamba dan khalifah di muka bumi ini.

d.    Fungsi sosialisasi
Keluarga merupakan buaian atau penyemaian bagi masyarakat masa depan, dan lingkungan keluarga merupakan faktor penentu yang sangat mempengaruhi kualitas generasi yang akan datang. Keluarga berfungsi sebagai miniatur masyarakat yang menyosialisasikan nilai-nilai atau peran-peran hidup dalam masyarakat yang harus dilaksanakan oleh para anggotanya. Keluarga merupakan lembaga yang mempengaruhi perkembangan kemampuan anak untuk menaati peraturan, atau bekerjasama dengan orang lain, bersikap toleran, menghargai pendapat dan gagasan orang lain, mau bertanggungjawab dan bersikap matang dalam kehidupan yang heterogen.
e.     Fungsi perlindungan (protektif)
Keluarga berfungsi sebagai pelindung bagi para anggota keluarganya dari gangguan, ancaman atau kondisi yang menimbulkan ketidaknyamanan para anggotanya.
f.      Fungsi rekreatif
Untuk melaksanakan fungsi ini, keluarga harus diciptakan sebagai lingkungan yang memberikan kenyamanan, keserasian, keceriaan, kehangatan dan penuh semangat bagi para anggotanya.
g.     Fungsi agama[63]
Keluarga berfungsi sebagai penanam nilai-nilai agama kepada anak agar mereka memiliki pedoman hidup yang benar. Dalam Al Quran surat At Tahrim:6 difirmankan;
$pkšr'¯»tƒtûïÏ%©!$#(#qãZtB#uä(#þqè%ö/ä3|¡àÿRr&ö/ä3Î=÷dr&ur#Y$tR
Artinya:   Hai orang-orang yang beriman jagalah dirimi dan keluargamu dari siksa api neraka[64]

2.    Kewajiban keluarga adalah sebagai berikut
a.     Memberi contoh kepada anak dalam berakhlak mulia. Sebab orang tua tidak berhasil menguasai dirinya tentulah tidak sanggup meyakinkan anak-anaknya untuk memegang akhlak yang diajarkannya. Maka sebagai orang tua harus terlebih dahulu mengajarkan pada dirinya sendiritentang akhlak yang baik sehingga baru bisa memberikan contoh pada anak-anaknya.
b.     Menyediakan kesempatan kepada anak untuk mempraktikan akhlak mulia. Dalam keadaan bagaimanapun sebagai orang tua akan mudah saja ditiru oleh anak-anaknya, dan di sekolahpun guru sebagai wakil orang tua merupakan orang tua yang akrab bagi anak.
c.     Memberi tanggung jawab sesuai dengan perkembangan anak. Pada awalnya orang tua harus memberikan pengertian dulu, setelah itu baru diberikan suatu kepercayaan pada anak itu sendiri.
d.    Mengawasi dan mengarahkan anak agar selektivitas dalam bergaul. Jadi orang tua tetap memberikan perhatian kepada anak-anak, di mana dan kapan pun orang tua selalu mengawasi dan mengarahkan, menjaga mereka dari teman-temanyang menyeleweng dan tempat-tempat maksiat yang menimbulkan kerusakan.[65]

b)    Lingkungan sekolah
Sekolah merupakan pendidikan formal yang secara sistematis yang melaksanakan program bimbingan, pengajaran dan latihan dalam rangka membantu siswa agar mampu mengembangkan potensinya, baik yang menyangkut aspek moral, spiritual, intelektual, emosional maupun sosial.[66]Sekolah juga mempunyai peranan atau tanggung jawab penting dalam membantu para siswa menapai tugas perkembangannya. Sehubungan dengan ini seyogianya berupaya menciptakan iklim yang kondusif, atau kondisi yang dapat memfasilitasi siswa untuk mencapai tugas perkembangannya.[67]
Sekolah juga mempunyai pengaruh yang sangat pentingbagi perkembangan selama selama masa pertengahan dan akhir anak-anak. Betapa tidak, anak menghabiskan kurang lebih 10.000 jam  waktunya di ruang kelas. Anak-anak menghabiskan waktu bertahun-tahun di sekolah sebagai anggota suatu masyarakat kecil yang harus menyelesaiakan sebuah tugas dan mengikuti sejumlah aturan yang menegaskan dan membatasi perilaku, perasaan  dan sikap mereka.[68]

c)Masyarakat
Masyarakat adalah lingkungan tempat tinggal anak. Mereka juga termasuk teman-teman anak di luar sekolah. Kondisi orang-orang di desa atau kota tempat tinggal jiga turut mempengaruhi perkembangan jiwanya.
Anak-anak yang dibesarkan di kota berbeda pola pikirnya dengan yang di desa. Anak kota umumnya lebih dinamis dan aktif bila dibandingkan dengan anak desa yang cenderung bersikap statis dan lamban. Anak kota lebih berani mengemukakan pendapatnya, ramah dan luwes sikapnya dalam pergaulan sehari-hari. Sementara anak desa umumnya kurang berani mengeluarkan pendapat, agak penakut, pemalu, dan kaku dalam pergaulan.[69]

d)   Kelompok teman sebaya
Teman sebaya pada umumnya adalah teman sekolah atau teman bermain di luar sekolah. Pengaruh teman sebaya sangat besar bagi arah perkembangan sosial anak baik yang bersifat positif maupun negatif. Pengaruh positif terlihat pada pengembangan konsep diri dan pembentukan harga diri. Hanya di tengah-tengah teman sebaya anak bisa merasakan dan menyadari bagaimana dan dimana kedudukan atau posisi dirinya. Teman sebaya juga memberikan pelajaran bagaimana cara bergaul di masyarakat. Sebaliknya teman sebaya juga memungkinkan untuk membawa pengaruh negatif, seperti merokok, mencuri, membolos, menipu serta perbuatan-perbuatan antisosial lainnya. Bahkan tidak jarang pengaruh negatif itu diikuti dengan ancaman dan pemerasan. Ada kecenderungan bahwa anak laki-laki memiliki hubungan teman sebaya yang lebih luas dari pada anak perempuan.
Minat terhadap kegiatan kelompoksebaya mulai muncul. Mereka memiliki teman-teman sebaya untuk melakukan kegiatan bersama. Integritas dengan kelompoknya cukup tinggi, ada keterikatan satu sama lain, sehingga mereka merasa perlunya untuk bersama-sama. Kegiatan untuk berada di tengah-tengah temannya membawa anak untuk keluar rumah menemuinya sepulang sekolah. Anak merasa kesepian di rumah, tiada teman. Kegiatan dengan sebaya ini meliputi belajar bersama, melihat pertunjukan, bermain, masak memasak dan sebagainya. Mereka sering melakukan kegiatan yang dilakukan orang dewasa.[70]

e)Lingkungan hidup
 lingkungan tempat tinggal anak didik, hidup dan berusaha di dalamnya. Pencemaran lingkungan hidup merupakan mala petaka bagi anak didik yang hidup di dalamnya. Udara yang tercemar merupakan polusi yang dapat mengganggu pernafasan. Udara yang terlalu panas menyebabkan anak didik kepanasan, pengap, dan tidak betah tinggal di dalamnya. Oleh karna itu, keadaan suhu dan kelembaban udara berpengaruh terhadap belajar anak didik di sekolah. Belajar pada keadaan udara yang segar akan lebih baik hasilnya dari pada belajar dalam keadaan udara yang panas dan pengap. Berdasarkan kenyataan yang demikian, orang cenderung berpendapat bahwa belajar di pagi hari akan lebih baik hasilnya dari pada belajar pada sore hari. Kesejukan udara dan ketenangan suasana kelas diakui sebagai kondisi lingkungan kelas yang kondusif untuk terlaksananya kegiatan belajar mengajar yang menyenangkan.[71]



[1] Armai Arief, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, Ciputat Pers, Jakarta, 2002, hal. 110.
[2] Heri Jauhari, Fikih Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 2005, hal. 19.
[3][3] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahan, PT. Sygma Examedia Arkanlema, Bandung, 2009, hal. 273.
[4]Ibid, hal. 34.
[5]Ibid, hal. 85.
[6]Ibid, hal. 123.
[7]Depdikbud,Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta,1990, hal. 113
[8] Ramayulis,  Metodologi Pendidikan Agama Islam, Kalam Mulia, Jakarta, 2008, hal. 275.
[9] Drs. H. Rohadi Abdul Fatah  M, Ag., Rekonstruksi Pesantren Masa Depan, PT. Listafariska Putra, Jakarta, 2008, hal.67.
[10] Samsul Munir, Kuliah Studi Pesantren Semester VII,  2012.
[11] Drs. H. Rohadi Abdul Fatah M, Ag., Op.Cit., hal. 57.
[12] Ramayulis, Op. Cit., hal. 285.
[13]Ibid, hal. 317.
[14]Ibid, hal. 309.
[15]Ibid, hal. 349.
[16]Armai Arief,Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islami, Ciputat Pers, Jakarta,2002, hal. 110.
[17]Ibid, hal. 281.
[18]Ibid, hal.127.
[19]Ibid, hal. 131.
[20]Ibid, hal. 160.
[21]Ibid, hal. 164.
[22]Ibid, hal 168.
[23]Ibid, hal. 186.
[24]Ibid, hal 196.
[25] Sudarwan danim, Perkembangan Peserta Didik, Alfabeta, Bandung, 2011, hal. 16-18.
[26] Abdullah Nashih Ulwan, Pendidikan Anak Dalam Islam, jakarta, Pustaka Amani,Cet. Ke-2, 1999, hal. 652-656.
[27]UU Sisdiknas No.20 tahun 2003.
[28]Hasbullah, Dasar-dasar  Ilmu Pendidikan, Rajawali Pers, Jakarta, hal.1.
[29] Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahanya, PT Sygma Examedia Arkanleema, Jakarta, 2009, hal. 489
[30] Drs. Hasan Basri, M.Ag, Filsafat Pendidikan Islam, Pustaka Setia, Bandung 2009 hal. 56
[31]Ibid
[32] Dr. Imam Abdul Mukmin Sa’aduddin, Meneladani Akhlak Nabi, PT Remaja Rosdakarya, Bandung
[33] Drs. M. Yatimin Abdullah, M.A, Studi Akhlak Dalam Persepektif Al-Qur’an, Amzah, Jakarta
[34] Departemen Agama RI, Op. Cit., hal. 564
[35] Sidiq Tono dkk, Ibadah dan Akhlak dalam Islam, UII Press, Yogyakarta, 2009, hal. 84
[36]Ibid
[37] Departemen Agama RI, Op. Cit., hal. 283.
[38]Ibid, hal. 89.
[39] Prof. Dr. Suwito, Filsafat Pendidikan Akhlak, Belukar, Yogyakarta, Hal. 116.
[40] Abdul Majid & Dian Andayani, Pendidikan Karakter Perspektif Islam, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, 2012, hal. 30.
[41] DR. Ali Abdul Halim Mahmud, Akhlak Mulia, Gema Insani, Jakarta, 2004, Cet. I, hal. 160.
[42] Departemen Agama RI, Op. Cit., hal. 524.
[43] http/www.perkuliahan.com/fungsi-pendidikan-aqidah-akhlak/#ixzz1 uzhaip2f jam 10.27.
[44] Prof. DR. H. Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, Jakarta, Kalam Mulia, Cet.7 2008, hal. 321.
[45] Dr. H. Syamsu Yusuf LN., M.Pd., Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja, Bandung, PT. Remaja Rosdakarya, Cet. kesepuluh 2009, hal. 132.
[46]Dra. Nurul Zuhriah, M.Si, Pendidikan Moral dan Budi Pekerti Dalam Perspektif Perubahan, Jakarta, Bumi Aksara Cet. Ke -3, 2011, hal. 22.
[47][47] Eliszabeth B. Hurlock, Psikologi Perkembangan, Jakarta, Penerbit Erlangga,1980, hal. 163.
[48] Loc.Cit.
[49] Ibid, hal. 133.
[50] Rita Eka Izzati dkk, Perkembangan Peserta Didik, UNY Press, Yogjakarta, 2008, hal. 111-113.
[51]Ibid, hal. 114-115.
[52] Dr. H. Syamsu Yusuf LN., M.Pd., Op.Cit., hal. 136.
[53] Departemen Agama RI, Op. Cit., hal 597.
[54] Drs. Heri Jauhari Muchtar, Fikih Pendidikan, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, hal. 7-10.
[55] Prof. Dr. Sudarwan Danim, Perkembangan Peserta Didik, Bandung, Alfabeta, Cet.1, 2010, hal. 9.
[56] Dr. H. Syamsu Yusuf LN., M.Pd., Op.Cit., hal.31.
[57] Prof. Dr. Sudarwan Danim., Op.Cit.,hal. 91.
[58]Desmita, Psikologi Perkembangan, PT Remaja Rosda Karya, Bandung, Cet.6 Oktobrt 2010, hal 80-90.
[59]Drs. Abu Ahmadi, Psikologi Perkembangan, PT. Rineka Cipta, Jakarta, 2005, hal.48-50.
[60] Syamsu Yusuf & Nani M., Perkembangan Peserta didik, PT RajaGrafindo Persada, Jakarta, cet. ke-2, 2011, hal. 22.
[61] Dr. H. Syamsu Yusuf LN., M.Pd., Op. Cit., hal. 35-36.
[62] Departetmen Agama RI,Op, Cit, hal. 38.
[63]Ibid., hal. 39-41
[64] Prof. R.H.A soenarjo S.H., Op.Cit., hal. 951.
[65] Dr. Mansur, M.A., Pendidikan Anak Usia Dini Dalam Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, Cet.3, 2009, hal.272-274.
[66]Ibid, hal. 54.
[67]Ibid, hal. 55.
[68] Desmita, Psikologi Perkembangan, PT. Remnaja Rosdakarya, Bandung, 2010, hal. 187
[69]Drs. H. Abu Ahmadi., Op.Cit., hal 56.
[70] Rita Eka Izzati, dkk., Op.Cit., hal. 114-115.
[71] Drs. Syaiful Bahri Djamarah, Psikologi Belajar, Jakarta, PT Rineka Cipta, 2008, hal.177-178.

1 komentar: